Debat Kelima Pilpres 2024 Minim Sanggahan, INDEF: Kita Kena Prank Nasional!

Jakarta –

Babak final perdebatan pemilihan presiden (pilpres 2024) yang minim perdebatan dan bantahan, tampaknya tidak menunjukkan kedalaman persoalan yang dibicarakan. Institute for the Development of Economics and Finance (INDEF) bahkan mengamati ada “lelucon” atau “lelucon” yang dipermainkan masyarakat pada debat kelima Pilpres 2024.

Ekonom senior INDEF Ahmad Tauhid awalnya mengaku kaget melihat debat kelima Pilpres 2024. Jika pada empat debat sebelumnya, para calon presiden (capres) saling serang, nyatanya para calon presiden saling bahu-membahu bahkan berujung adu argumentasi. pada debat kelima jelang Pilpres 2024.

“Sepertinya momen yang tidak biasa, (debat) satu sampai empat adalah debat yang tidak biasa, tapi (calon presiden) saling mengada-ada (argumentasi dalam debat tadi malam), mereka mengisi kekosongan satu sama lain, sehingga dalam “Dengan lelucon nasional,” kata Ahmad dalam diskusi publik “Reaksi Debat Pilpres Kelima” di Hotel Manhattan, Kuningan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2024).

Ahmad kemudian mengatakan, dinamika debat pada debat capres kelima ini sudah diperkirakan sejak awal oleh para ekonom INDEF, namun tidak muncul di akhir acara. Termasuk dalam waktu tanya jawab antar calon presiden.

“Kami menunggu apakah itu di rapat atau antar calon, tapi tidak benar-benar terjadi,” jelasnya.

“Namun dari debat tadi malam yang kita lihat dari isu kesejahteraan, pekerjaan, dari disabilitas hingga digital, ternyata banyak sekali yang berminat. Baik itu kualitas jawaban, kualitas pertanyaan, atau kualitas pertanyaan. kualitas perdebatan antar pasangan calon menunjukkan inti permasalahan sebenarnya, lanjutnya.

Maisie Sagita, analis data berkelanjutan INDEF, juga mengatakan hal serupa juga diungkapkan oleh netizen Indonesia. Berdasarkan hasil riset INDEF, mayoritas netizen Indonesia menilai debat lima calon presiden 2024 sebagai yang “paling keren” dari putaran debat sebelumnya.

“Debat semalam dinilai paling menarik oleh netizen,” jelasnya.

Maisie mengatakan, temuan ini didapat dari analisis 74.356 percakapan dari 54.170 akun media sosial yang bebas rumor. Pihaknya menggunakan Twitter, YouTube, dan TikTok untuk menganalisis data pasca debat hingga Senin (2/5) pukul 07.00 WIB.

Faisal Basri, Ekonom Senior, juga mengatakan, tidak ada isu substantif yang diharapkan dalam perdebatan Pilpres 2024. Menurut dia, perdebatan yang disiarkan tadi malam bukan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, melainkan sekadar untuk mendongkrak suara pemilih. para pemilih.

“Bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk mendongkrak suara pemilih. Jadi debat kelima ini sebuah kemunduran karena semua orang main-main. Semua orang sadar dengan ciri-ciri orang Indonesia yang tidak suka dengan orang yang menyindir seperti saya. Mereka melindungi diri mereka sendiri. dari menunjukkan ironi dalam pembahasan, padahal itu berkaitan dengan kebijakan publik,” tutupnya.

Saksikan juga video ‘Analisis drone Emprit pada debat kelima: Anies mendapat banyak sentimen positif’:

(senja/sore)